Sabtu, 19 April 2014

Menghitung Saldo Akhir Persediaan Tanpa Stock Opname

http://halloagan.blogspot.com/
1. Dengan Menggunakan Kartu Stock,
Saldo akhir persediaan dapat di lihat di kartu stock saldo akhir masing-masing item barang persediaan. Jika tidak ada saldonya maka bisa menggunakan metode pengurangan jumlah masing-masing item barang masuk dengan jumlah item barang keluar.


2. Dengan Menggunakan Metode Laba Kotor
Formula Harga Pokok Penjualan (HPP) adalah:
HPP = Saldo Awal Persediaan + Pembelian – Saldo Akhir Persediaan

Untuk menghitung Saldo Akhir Persediaan, rumusnya tinggal dibalik, jadinya:
Saldo Akhir Persediaan = Saldo Awal Persediaan + Pembelian – HPP

Sebelumnya kita mencari HPPnya dulu dengan menggunakan Laba Kotor
Laba Kotor = Penjualan Bersih – Harga Pokok Penjualan

Untuk mencari HPP formulanya tinggal dibalik, jadinya:
Harga Pokok Penjualan = Penjualan Bersih – Laba Kotor


Nah, “Laba Kotor” inilah yang diestimasi dengan menggunakan tarif tertentu. Itu sebabnya metode ini disebut dengan “Metode Laba Kotor” alias “Gross Profit Method.”

Perlu diingat, hasil perhitungan ini tidak dijamin akurat 100%. Sebab Harga Pokok Penjualan dihitung dengan menggunakan estimasi, yakni tarif laba kotor yang belum tentu sama dengan kenyataannya.

Dengan demikian berarti anda bisa memperkirakan (mengestimasi) nilai saldo akhir persediaan sepanjang punya data:
1. Penjualan Bersih
2. Tarif Laba Kotor
3. Saldo Awal Persediaan; dan
4. Pembelian (penambahan) persediaan


Contoh Kasus:
Rini adalah Chief Accountant PT. JAK yang masih menggunakan sistim periodik untuk persediaannya. Stock opname persediaan PT JAK dilakukan secara terjadwal yakni tanggal 31 Desember setiap setahun. Untuk mengajukan kredit ke bank, boss nya Rini mendadak minta Laporan Keuangan sampai dengan 31 Agustus. Adapun data yang tersedia, yaitu:


Saldo Awal Persediaan = Rp 50,000,000
Pembelian Persediaan (1 Jan s/d 31 Agustus = Rp 70,0000
Penjualan Bersih (1 Jan s/d 31 Agustus = Rp 200,000,000
Pertanyaan: Berapa Saldo Akhir Persediaan saat ini?

Solusi:
Karena tidak ada kartu stock, Rini terpaksa hanya mengira-ngira nilai saldo akhir persediaannya. Supaya bisa menggunakan metode “Laba Kotor” (Gross Profit), disamping data di atas Rini masih perlu mengetahui tarif estimasi Laba Kotor PT. JAK terlebih dahulu.
Menurut informasi bossnya, PT. JAK selama ini selalu mematok Laba Kotor sekitar 50% untuk setiap produk yang dijual. Dengan informasi ini sekarang Rini bisa menghitung estimasi saldo akhir persediaan, dengan menggunakan 2 langkah berikut:

Langkah-1 (Menghitung Estimasi Harga Pokok Penjualan):
Penjualan Bersih – Estimasi Tarif Laba Kotor = Estimasi Harga Pokok Penjualan
Rp 200,000,000 – Rp (50% x Rp 200,000,000) = Estimasi Harga Pokok Penjualan
Rp 200,000,000 – Rp 100,000,000 = Estimasi Harga Pokok Penjualan
Estimasi Harga Pokok Penjualan = Rp 100,000,000

Langkah-2 (Menghitung Estimasi Saldo Akhir Persediaan):
Estimasi Saldo Akhir Persediaan = Saldo Awal Persediaan + Pembelian Persediaan – Estimasi Harga Pokok Penjualan
Estimasi Saldo Akhir Persediaan = Rp 50,000,000 + Rp 70,000,000 – Rp 100,000,000
Estimasi Saldo Akhir Persediaan = Rp 20,000,000
Angka estimasi Rp 20,000,000 inilah yang kemudian disajikan oleh Rini dalam Laporan Laga Rugi dan Neraca yang diserahkan kepada bossnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar