Sabtu, 03 Mei 2014

Menghitung dan Menganalisa Rasio Keuangan

http://halloagan.blogspot.com/

Analisa Rasio Keuangan adalah suatu metode perhitung dan interpretasi berdasarkan pos - pos yang ada pada satu laporan atau kombinasi antar laporan yang digunakan untuk menentukan tingkat likuiditas, solvabilitas, dan profitabilitas perusahaan.
Dengan tujuan menentukan estimasi dan prediksi yang paling mungkin mengenai kondisi dan kinerja perusahaan pada masa mendatang.


1. Rasio Likuiditas, Mengukur kemampuan perusahaan membayar utang jangka pendek. Ada dua rasio yang digunakan untuk mengukur Likuiditas perusahaan, yaitu Current Ratio dan Quick Ratio.
  • Current Ratio adalah rasio yang digunakan mengukur tingkat likuiditas perusahaan dengan membandingkan aset lancar dengan utang lancar, Current Ratio = Aset Lancar / Utang Lancar
  • Quick Ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan suatu perusahaan dalam menggunakan aktiva lancar untuk menutupi utangnya, Quick (Acid Test) Ratio = (Aset Lancar – Uang Muka – Persediaan) / Utang Lancar
2. Rasio Struktur Modal/Leverage, Mengukur kemampuan perusahaan membayar utang jangka panjang. Tiga tipe dasar leverage :
  • Leverage operasi, hubungan antara pendapatan penjualan perusahaan dengan EBIT. 
  • Leverage keuangan, hubungan antara EBIT perusahaan dengan EPS.
  • Leverage total, hubungan antara pendapatan penjualan perusahaan dengan EPS.
3. Rasio Profitabilitas, Mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan Laba. Berikut 6 jenis Rasio Profitabilitas :

  • Gross Profit Margin (GPM) digunakan untuk menghitung seberapa besar keuntungan kotor dari penjualan produk, Gross Profit Margin = Laba Kotor  / Penjualan Bersih. atau Gross Profit Margin = (Penjualan Bersih - HPP) / Penjualan Bersih. Sebagai contoh Penjualan perusahaan Rp 10,907,000,000. Sedangkan Laba Kotor Rp 4,825,000,000. Sehingga GPM = 4,825,000,000 / 10,907,000,000 = 44%. Artinya, untuk setiap Rp 1 penjualan bersih yang dihasilkan oleh perusahaan, Rp 0.56 dipergunakan untuk menutup Harga Pokok Penjualan, sehingga tersisa Rp 0.44 saja untuk menutup biaya operasional. Dengan kata lain, dari total penjualan netto yang dihasilkan, 56% nya habis digunakan untuk menutup HPP dan hanya 44% yang tersisa untuk menutup biaya operasional.
  • Net Profit Margin (NPM) atau Return On Sales (ROS) digunakan untuk menghitung seberapa besar keuntungan bersih dari penjualan produk, Net Profit Margin = Laba Bersih / Penjualan Bersih. Misalnya NPM = Laba Bersih Rp 979,000,000 / Penjualan Rp 10,907,000,000 = 9%, artinya untuk setiap Rp 1 dari penjualan bersih yang dihasilkan, laba bersih yang tersisa hanya Rp 0.09. Sedangkan yang Rp 0.91 habis untuk menutup HPP, biaya operasional dan pajak. Dengan kata lain, dari total penjualan netto yang dihasilkan, perusahaan hanya menyisakan 9% laba bersih. Sedangkan 91% nya habis untuk menutup HPP, Biaya Operasional dan Pajak.
  • Return On Assets (ROA) digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian dari bisnis atas seluruh aset yang ada, ROA = Laba Bersih / Total Aktiva. Misalnya ROA = Laba Bersih Rp 979,000,000 / Total Aktiva Rp 10,715,000,000 = 9.1%, artinya untuk setiap Rp 1 Aset yang digunakan, perusahaan hanya mampu menghasilkan Rp 0.091 Laba Bersih. Bisa juga dikatakan, perusahaan hanya mampu menghasilkan Laba Bersih 9.1% dari total Aset yang digunakan.
  • Return On Equity (ROE) atau Return On Investmen (ROI) digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian dari bisnis atas seluruh modal yang ada, ROE= Laba Bersih/ Total Ekuitas. Misalnya ROE atau ROI = Laba Bersih Rp 979,000,000 / Total Ekuitas 2,071,000,000 = 47.3%, artinya untuk setiap Rp 1 yang diinvestasikan pada perusahaan, pemegang saham memperoleh tambahan nilai ekuitas Rp 0.473. Bisa juga dikatakan, dari total investasi pada perusahaan, pemegang saham memperoleh kenaikan nilai ekuitas hampir separuhnya yakni 47.3%.
  • Earning Per Share (EPS) digunakan untuk mengukur setiap lembar saham dalam menghasilkan pendapatan bagi para pemegangnya, EPS = (Laba Bersih – Dividend Preferen) / Rata-Rata Tertimbang Saham Beredar
  • Devidend Payout Ratio (DPR) digunakan untuk mengukur tingkat deviden yang dibagikan, DPR = Dividend Kas Saham Biasa / (Laba Bersih – Dividend Preferen)
4. Rasio Aktivitas, Menggambarkan aktivitas yang dilakukan perusahaan dalam menjalankan operasinya baik dalam kegiatan penjualan, pembelian, dan kegiatan lainnya. Dimana rasio ini melihat kemampuan manajemen untuk menggunakan dan mengoptimalkan aktiva yang dimiliki. Berikut jenis - jenis Rasio Aktivitas :

  • Receivable Turn Over, digunakan untuk mengukur berapa lama penagihan piutang. Semakin besar nilai rasio menunjukkan modal kerja yang ditanamkan dalam piutang sama dengan rendah, sebaliknya kalau nilai rasio kecil berarti ada over investment dalam piutang. Receivable Turn Over = Penjualan Kredit / Piutang Rata - Rata
  • Inventory Turn Over, digunakan untuk mengukur kemampuan dana yang tertanam dalam inventory berputar dalam suatu periode tertentu. Rasio ini bertujuan untuk menilai efisiensi operasional pengelolahan persediaan barang dagang. Inventory Turn Over = HPP atau Penjualan / Persediaan
  • Fixed assets Turn Over, digunakan untuk mengukur efektivitas penggunaan dana yang tertanam dalam aktiva tetap untuk menghasilkan penjualan bersih setiap rupiah yang diinvestasikan pada aktiva tetap. Fixed assets Turn Over = Penjualan / Aktiva Tetap
  • Working Capital Turn Over, digunakan untuk mengukur aktivitas bisnis terhadap kelebihan aktiva lancar atas kewajiban lancar serta menunjukkan banyaknya penjualan yang dapat diperoleh perusahaan untuk tiap rupiah modal kerja. Working Capital Turn Over = Penjualan / Modal Kerja Bersih atau Working Capital Turn Over = Penjualan / (Aktiva Lancar - Utang Lancar)
  • Total Assets Turn Over merupakan rasio yang menunjukkan tingkat efisiensi penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan dalam menghasilkan volume penjualan tertentu. Semakin tinggi nilai rasio menunjukkan aktiva dapat lebih cepat berputar dan meraih laba dan semakin efisien penggunaan keseluruhan aktiva dalam menghasilkan penjualan. Total Assets Turn Over = Penjualan / Total Aktiva
Menganalisa Laporan Keuangan bertujuan untuk memberi gambaran pada manajemen akan kelemahan dan kemampuan finansial perusahaan dari tahun ke tahun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar